oleh

Sekda Dian, Berkemah di Buper Bagarurung Mengajarkan untuk Merenungkan Ciptaan Tuhan

-Berita-86 Dilihat

KUNINGAN – Selama dua hari DP KORPRI Kuningan mengadakan Diklat Satgas BALADHIKA di Buper Bagarurung yang memiliki panorama alam bukit yang indah dipadati Pohon Pinus. Buper Bagarurung yang dikenal dengan Bukit Bagarurung, berada di sekitar Desa Sakerta Timur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan.

Untuk mencapai puncak bukit itu relatif mudah. Bisa diakses dengan sepeda motor maupun mobil melalui Desa Cageur, Kecamatan Darma dengan waktu tempuh sekitar 10 menit bisa langsung ke lokasi.

Buper Bagarurung banyak dikunjungi wisatawan, bahkan DP KORPRI Kuningan juga mengadakan kegiatan Capacity Building bagi Pengurus dan Satker, serta Diklat dan Pengukuhan Satgas BALADHIKA KORPRI baru.

Sekda Kuningan yang juga Ketua DP KORPRI Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, saat berada di Buper usai penyematan Satgas BALADHIKA KORPRI menyebutkan, Diklat berlangsung mulai 21-22 Juni 2024, bagi peserta diberikan pembekalan Mitigasi Bencana, Bela Negara, Outbound, Siraman Rohani, Kekorprian, Lintas Alam dan Fun Game.

Melalui kegiatan berkemah di Buper Bagarurung ini, Sekda Dian mengatakan, hal penting sebagai Tadabur Alam, bagaimana merenungkan hikmah setiap ciptaan Allah SWT. Hikmah tersebut, diantaranya dengan mengamati keindahan dan kompleksitas alam membuat seseorang lebih bersyukur atas karunia dan rahmat yang diberikan Allah.

“Melalui pengamatan alam, seseorang dapat melihat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, yang dapat memperkuat keyakinan dan iman. Alam dengan segala keajaibannya menginspirasi rasa takjub dan kekaguman, yang dapat membawa seseorang pada pemahaman yang lebih dalam tentang kebesaran-Nya,” ucapnya.

Selain itu, Sekda Dian mengatakan, mengamati proses alam yang berlangsung dengan keteraturan dan kesabaran dapat mengajarkan untuk lebih tawakal dan sabar dalam menghadapi kehidupan.

Sekda Dian menuturkan, secara keseluruhan, tadabur alam bukan hanya tentang mengamati alam secara fisik, tetapi juga tentang merenungkan makna yang lebih dalam dari ciptaan Tuhan.

“Dan mengambil pelajaran dari pengamatan setiap peristiwa alam yang terjadi. Alam bukan warisan, melainkan titipan yang harus dijaga kelestariannya untuk anak cucu kita,” ungkapnya. (IKP/DISKOMINFO).