oleh

Polsek Pengaron Jaring 420 Pelanggar Operasi Yustisi Prokes Didominasi Remaja

-Berita-19 Dilihat

Polsek Pengaron Jaring 420 Pelanggar Operasi Yustisi Prokes Didominasi Remaja – Pemerintah Kabupaten Banjar







Martapura,InfoPublik – Sejak terbentuk sekitar satu bulan lalu, Relawan Desa Lawan Covid-19 gencar lakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat yang berada di Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar, khususnya dalam sosialisasi Perbup Banjar Nomor 30 tahun 2020.

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Humas Polsek Pengaron Aipda Muali didampingi Babinkamtibmas Bripka Angga saat gelaran talk show di Radio Suara Banjar 100,4 FM, Kamis (22/10/2020) siang.

Menurut Muali, dari 12 desa yang ada satu desa di antaranya, relawan desa lawan Covid-19 dimaksud berdiri di Desa Lok Tunggul dengan jumlah personil 40 orang. Lengkap dengan posko, rencana kerja serta fasilitas pendukung lainnya.

Terkait dengan Perbup Banjar Nomor 30 tahun 2020 pihaknya sejauh ini sudah melakukan operasi yustisi di berbagai lokasi yang dianggap rawan berkumpulnya warga dalam jumlah banyak, seperti jalan desa, pasar dan sekolah madrasah.

“kita melakukannya sebanyak tiga kali sehari, pagi, siang dan malam, dimana banyak terdapat warga yang berkumpul, agar bisa menerapkan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan serta memakai masker,” ucap dia.

Muali melanjutkan, sejauh ini pihaknya mencatat sejak dilakukan operasi yustisi oleh pihaknya, sudah ada sekitar 350 warga yang kedapatan tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Sementara 70 warga lainnya hanya membawa masker namun tidak memakainya. Umumnya para pelanggar ini didominasi oleh para remaja yang berusia 17 hingga 20 tahun dengan alasan klasik lupa membawa masker.

“Kepada mereka kita catat datanya dan memberikan sanksi ringan seperti push up, tapi jika usianya cukup tua kita hanya berikan sanksi seperti bersih-bersih,”kata dia.

Sementara itu terkait kebakaran hutan dalan lahan (karhutla) di Kecamatan Pengaron dikatakan Bripka Angga, sejauh ini hanya terlihat beberapa titik yang lokasinya susah dijangkau karena banyaknya perbukitan yang harus dilalui jika ingin melakukan Tindakan pemadaman.

“Kita menemui kendala, banyaknya perbukitan dan tidak ada akses untuk menuju lokasi, bahkan jalan setapakpun juga tidak ada. Untungnya musim kemarau ini masih ada hujan yang terjadi, sehingga titik api yang ada bisa padam dengan sendirinya,”ungkap dia.

Pembukaan lahan secara praktis dengan cara membakarnya oleh oknum warga, diakui terkadang masih terjadi. Meski belum terlihat signifikan, pihaknya tetap siap dengan peralatan yang ada untuk penanggulangan karhutla di wilayah Kecamatan Pengaron yang bisa saja terjadi.

“Kita tetap siap untuk penanggulangan karhutla yang kapan saja terjadi disamping tugas untuk edukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19. Keduanya akan kita kerjakan meskipun dengan jumlah personil yang terbatas,”tutur dia.

Ia juga berharap kepada masyarakat di wilayah hukum Pengaron agar semakin sadar akan protokol Kesehatan Covid-19, serta tidak melakukan budaya buka lahan praktis dengan cara membakarnya.

“Semoga masyarakat semakin sadar akan betapa pentingnya menjaga kesehatan dan tidak ada lagi karhutla yang terjadi dengan cara membakarnya dengan sengaja,” harapnya. (MC Kab.Banjar/Rony/Man/mey)

Source:: Media Center

“>




Martapura,InfoPublik – Sejak terbentuk sekitar satu bulan lalu, Relawan Desa Lawan Covid-19 gencar lakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat yang berada di Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar, khususnya dalam sosialisasi Perbup Banjar Nomor 30 tahun 2020.

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Humas Polsek Pengaron Aipda Muali didampingi Babinkamtibmas Bripka Angga saat gelaran talk show di Radio Suara Banjar 100,4 FM, Kamis (22/10/2020) siang.

Menurut Muali, dari 12 desa yang ada satu desa di antaranya, relawan desa lawan Covid-19 dimaksud berdiri di Desa Lok Tunggul dengan jumlah personil 40 orang. Lengkap dengan posko, rencana kerja serta fasilitas pendukung lainnya.

Terkait dengan Perbup Banjar Nomor 30 tahun 2020 pihaknya sejauh ini sudah melakukan operasi yustisi di berbagai lokasi yang dianggap rawan berkumpulnya warga dalam jumlah banyak, seperti jalan desa, pasar dan sekolah madrasah.

“kita melakukannya sebanyak tiga kali sehari, pagi, siang dan malam, dimana banyak terdapat warga yang berkumpul, agar bisa menerapkan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan serta memakai masker,” ucap dia.

Muali melanjutkan, sejauh ini pihaknya mencatat sejak dilakukan operasi yustisi oleh pihaknya, sudah ada sekitar 350 warga yang kedapatan tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Sementara 70 warga lainnya hanya membawa masker namun tidak memakainya. Umumnya para pelanggar ini didominasi oleh para remaja yang berusia 17 hingga 20 tahun dengan alasan klasik lupa membawa masker.

“Kepada mereka kita catat datanya dan memberikan sanksi ringan seperti push up, tapi jika usianya cukup tua kita hanya berikan sanksi seperti bersih-bersih,”kata dia.

Sementara itu terkait kebakaran hutan dalan lahan (karhutla) di Kecamatan Pengaron dikatakan Bripka Angga, sejauh ini hanya terlihat beberapa titik yang lokasinya susah dijangkau karena banyaknya perbukitan yang harus dilalui jika ingin melakukan Tindakan pemadaman.

“Kita menemui kendala, banyaknya perbukitan dan tidak ada akses untuk menuju lokasi, bahkan jalan setapakpun juga tidak ada. Untungnya musim kemarau ini masih ada hujan yang terjadi, sehingga titik api yang ada bisa padam dengan sendirinya,”ungkap dia.

Pembukaan lahan secara praktis dengan cara membakarnya oleh oknum warga, diakui terkadang masih terjadi. Meski belum terlihat signifikan, pihaknya tetap siap dengan peralatan yang ada untuk penanggulangan karhutla di wilayah Kecamatan Pengaron yang bisa saja terjadi.

“Kita tetap siap untuk penanggulangan karhutla yang kapan saja terjadi disamping tugas untuk edukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19. Keduanya akan kita kerjakan meskipun dengan jumlah personil yang terbatas,”tutur dia.

Ia juga berharap kepada masyarakat di wilayah hukum Pengaron agar semakin sadar akan protokol Kesehatan Covid-19, serta tidak melakukan budaya buka lahan praktis dengan cara membakarnya.

“Semoga masyarakat semakin sadar akan betapa pentingnya menjaga kesehatan dan tidak ada lagi karhutla yang terjadi dengan cara membakarnya dengan sengaja,” harapnya. (MC Kab.Banjar/Rony/Man/mey)

Source:: Media Center

“>