oleh

Penguasa Rimba TN Gunung Ciremai, Slamet Ramadhan Akan Bersanding dengan Rasi, Macan Tutul Betina

-Berita-105 Dilihat

KUNINGAN,- Sampai saat ini ekosistem kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dianggap memiliki kualitas baik. Berdasarkan hasil penafsiran citra SPOT 6 Resolusi 1 meter Liputan tahun 2018 dan 2019, kawasan TNGC didominasi oleh tutupan berhutan mencapai 80% dari seluruh luas kawasan. Macan Tutul (Panthera pardus melas) merupakan satwa kunci/key spesies yang menjadi icon kawasan TNGC yang memerlukan ekosistem alami sebagai habitatnya. 

Berdasarkan analisa hasil tangkapan kamera trap yang dipasang sejak tahun 2012, jumlah populasi Macan Tutul diduga berjumlah 1 (satu) ekor. Hasil dugaan sementara, Macan Tutul tersebut sudah mati karena terakhir tertangkap kamera pada tahun 2013. Pada tanggal 9 Juli 2019, Balai TNGC melepasliarkan 1 (satu) ekor Macan Tutul dari BBKSDA Jawa Barat hasil serahan masyarakat.

Dalam rangka meningkatkan jumlah populasi Macan Tutul, Balai TN Gunung Ciremai bekerjasama dengan Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat (BBKSDA Jawa Barat) dan PPS Cikananga akan melepasliarkan Macan Tutul Betina yang diberi nama “Rasi”. Rasi diserahkan oleh masyarakat Kampung Bunisari, Desa Cikondang, Kec Cisompet, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat kepada BBKSDA Jawa Barat dan kemudian langsung direhabilitasi di PPS Cikananga pada tanggal 2 Juli 2019. Rasi ditemukan di perbatasan hutan dengan pemukiman dengan usia perkiraan 3-6 bulan. 

Saat ini, Rasi telah berusia 3 (tiga) tahun dan siap kawin. Selain untuk bersanding dengan Slamet Ramadhan, Rasi ditujukan untuk memancing Slamet Ramadhan untuk membuka GPS Collar yang telah dipasang pada saat dilepasliarkan. Rencana pelepasliaran Macan Tutul akan dilakukan di Blok Bintangot, SPTN Wil I Kuningan. 

Teguh Setiawan, Kepala Balai TN Gunung Ciremai menyampaikan persiapan yang telah dilakukan Balai TN Gunung Ciremai dalam menyambut Macan Tutul betina. “Pada Bulan November 2021, diskusi dengan para pihak telah dilakukan yaitu LPPN Universitas Kuningan, Peduli Karnivora Jawa dan Sintas Indonesia kemudian pada tanggal 7 Desember 2021 telah dilakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah yang dihadiri langsung oleh Bupati Kuningan dan Muspika terkait khususnya yang berbatasan dengan Blok Bintangot”Jelasnya. 

Kemudian ditambahkan oleh Robi Gumilang selaku koordinator spesies Macan tutul “kandang habituasi juga telah selesai terbuat dari rangka baja yang disusun dan disesuaikan untuk keamanan dan keselamatan Macan Tutul Jawa, dengan luas permukaan totalnya adalah 66 m2, tinggi 4-6 meter dari permukaan tanah dengan volume totalnya adalah 204 m3.

Kandang tersebut dilengkapi total tujuh pintu untuk dapat dioperasikan sebagai pintu jebakan, pintu keluar, dan pintu pemberian pakan”.   

Kandang habituasi ini akan dihuni oleh Macan Tutul Betina, Rasi selama kurang lebih 4 minggu untuk memancing Slamet Ramadhan keluar, apabila sampai 1 (satu) bulan Slamet Ramadhan tidak terpancing maka Macan Tutul betina akan dilepaskan”. Menurut Cahyono, staf PPS Cikananga, Macan Tutul betina akan dibawa ke kandang habituasi di TN Gunung Ciremai dari PPS Cikananga pada tanggal 31 Januari 2022 dan resmi akan dilepasliarkan awal Maret 2022. 

Proses habituasi Rasi selama satu bulan telah menunjukkan kesiapan untuk dilepasliarkan. Selain adaptasi perilaku Rasi untuk siap dilepasliarkan, habituasi yang dilakukan juga diperuntukan untuk memancing Slamet Ramadhan untuk mendekat. Kondisi perkembangannya yang baik diharuskan untuk melepas GPS Collar yang telah dipasang sejak tahun 2019. Pada minggu kedua habituasi, Perilaku Rasi terlihat aktif dan pola aktivitasnya sudah mulai terbentuk. Hal ini menunjukkan Rasi sudah mulai nyaman dengan calon tempat barunya. 

Sesuai dengan rencana, pelepasliaran Rasi dilakukan pada awal Maret 2022 yaitu pada tanggal 5 Maret 2022. Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan dalam sambutannya menyampaikan asal muasal Macan Tutul Betina, Rasi dan tahapan yang dilakukan sampai dengan acara pelepasliaran. 

“Pada awalnya, Rasi ini digunakan untuk memancing Slamet Ramadhan namun ternyata sampai saat ini Slamet Ramadhan tidak kunjung datang, berkaca dari Slamet Ramadhan, maka Rasi dikenakan GPS Collar yang lepas dengan sendirinya setelah 6 bulan”jelas Teguh. 

Pada acara pelepasliaran satwa liar ini turut disaksikan pula Ammy Nurwati, Direktur Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem, Ditjen KSDAE mewakili Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

“Kami berharap dengan diberikannya pasangan, Macan Tutul akan berkembang biak dan bertambah populasinya sehingga icon Balai TNGC yaitu Macan Tutul dan gunungnya tetap ada.”ucap Ammy. 

Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih Direktur Jenderal KSDAE atas kinerja berbagai pihak dalam mensukseskan pelepasliaran Macan Tutul ini.  

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Bupati Kuningan, H. Acep Purnama,SH.,MH Wakil Bupati Majalengka, Tarsno, D. Mardiana, Anggota DPRD Komisi I Kab Kuningan Dede Sembada, Anggota DPRD Komisi IV Kab Kuningan Sri Laelasari, Anggota DPRD Kab Majalengka Jejem Muh. Hanurajasa, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala Bidang Wilayah III, Andi Witria, Kepala Balai KSDA Jawa Tengah, Kepala Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Manager konservasi Gembira Loka Zoo, Wakil Adm Perhutani Kab Kuningan, Kepala CDK Wilayah VIII Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Camat Pasawahan, Polsek Mandirancan, Polsek Pasawahan, Koramil Mandirancan, Kepala Desa Seda, Forum Ciremai, LSM Akar dan aktivis lingkungan.

Acep Purnama menyebutkan kawasan TNGC sebagai kawasan hutan konservasi yang harus dijaga karena telah memberikan manfaat langsung berupa air dan udara segar. “Dengan menjaga satwanya, maka ekosistemnya pun akan terjaga”tambahnya. (Bid IKP/Diskominfo)

Kabar Terbaru