oleh

Pemkot Malang Gelar Apel Hari Santri Nasional 2019

-Berita-407 Dilihat

Klojen (malangkota.go.id) – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2019, Pemerintah Kota Malangmenggelar apel bersama halaman depan Balai Kota Malang, Senin (22/10/2019) yang diikuti ratusan santri, pelajar, TNI-Polri dan ASN di lingkungan Pemkot Malang.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menyerahkan buku kepada santri usai apel Hari Santri Nasional

Pada momen peringatan Hari Santri Nasional kali ini, semua peserta dan ASN Pemkot Malang laki-laki tampak mengenakan busana muslim putih dan bersarung layakyua santri.

Mengacu pada momen sejarah ditetapkannya Hari Santri pada 22 Oktober 1945 silam yang dimotori para kiai di bawah pimpinan Kiai Hasyim Asy’ari, maka maknanya sangat mendalam. Setelah dikeluarkannya resolusi jihad dan adanya ikrar santri, maka sebagai santri tidak hanya menuntut ilmu di pesantren.

Hal itulah yang disampaikan Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji saat menjadi Pembina Apel Hari Santri Nasional di Kota Malang. Menurutnya, santri harus berada di barisan terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI dan menangkal radikalisme. Hal ini juga sesuai perjuangan para kiai dan santri, ketika mengusir penjajah kala itu.

Di era kemerdekaan dan serba teknologi ini, kata Sutiaji, penjajahan tak lagi dengan mengangkat senjata, tapi melalui budaya dan teknologi informasi. “Maka dari itulah, para santri pun harus menguasai teknologi dan memiliki pengetahuan yang luas, sehingga apa pun bentuk penjajahannya dapat ditangkal sedini mungkin,” ujarnya.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi santri dan kaum muda pada umumnya, serta bagaimana kita mampu bersaing di era yang serba teknologi ini. Dalam konteks ini, santri harus pelopor dan garda terdepan,” imbuh Sutiaji.

Ketua MUI Kota Malang KH Baidlowi Muslich juga berpesan agar santri dan umat Islam pada umumnya selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW serta para ulama.

“Dalam hidup bermasyarakat, hendaknya berlandaskan pada UUD 1945 dan Pancasila, sehingga persatuan dan kerukunan antar umat beragama terjaga dengan baik. Santri pun harus memiliki dua komitmen, yaitu komitmen keagamaan dan kebangsaan, agar ada keseimbangan, dan dapat menangkal berbagai gangguan maupun ancaman bagi bangsa ini,” pungkas kiai sepuh itu. (say/yon)