Beranda Berita Kisah Dibalik Guru Menyapa Murid Saat Libur Panjang COVID19

Kisah Dibalik Guru Menyapa Murid Saat Libur Panjang COVID19

50
0

Kisah Dibalik Guru Menyapa Murid Saat Libur Panjang COVID19 237

Kisah Dibalik Guru Menyapa Murid Saat Libur Panjang COVID19 237

BERITA BOGOR – Libur panjang dalam rangka pencegahan dan penyebaran COVID-19 pada pekan kedua tidak serta merta dimanfaatkan peserta didik untuk mengerjakan tugas belajar di rumah.

Setiap awal pekan, di pagi hari, guru kelas rajin menggunakan jejaring sosial untuk menyapa seluruh peserta didik untuk mengerjakan tugas dan absen daring. “Selamat pagi anak – anakku, apa kabar?, Tetap semangatkan?,
Sudah mandikan?. Kalau sudah jangan lupa sarapan dan minum vitamin,” sapa Guru Kelas SMPN 1 Babakan Madang yang enggan disebut namanya melalui WhatsApp, Senin (23/03/2020)

Sapaan guru yang menginginkan anak – anak didiknya tetap belajar di rumah selama libur panjang juga menyampaikan sejumlah soal – soal pelajaran dan pesan supaya lembaran tugas yang sudah selesai dikerjakan dikumpulkan dalam satu file plastik. “Tidak terasa ya kita sudah memasuki pekan kedua. Okay, here we go. Kita mulai kembali aktivitas belajar dirumah. Diharapkan kegiatan ini dikerjakan supaya tidak menumpuk tugas belajar dirumah. Don’t forget to pray. Absen seperti biasa dimulai pukul 17.00 wib,” lanjut pesan chat dalam jejaring tersebut.

Baca juga :  PELAJAR SDN PABUARAN 03 GELAR JUM’AT MENGAJI

Sementara, seorang anak didik mengaku belum mengetahui bahwa gurunya telah mengirimkan pesan melalui jejaring sosial pada awal pekan kedua ini. Sebut saja, Aji remaja kelas IX SMPN 1 Babakan Madang, Kabupaten Bogor. “Saya belum tahu soalnya hp Aji dijual sudah lama sebelum umi meninggal dunia. Sekarang belum punya hp sebab belum punya uang untuk membelinya,” ucap Aji warga Desa Karang Tengah saat ditanya Tim Berita Bogor.

Kendati demikian, Aji mengklaim setiap hari mengerjakan tugas belajar di rumah bersama teman sekelas yang datang mengunjungi rumah peninggalan almarhumah ibunya. “Tapi, teman yang punya hp kalau datang kesini selalu kerjakan PR bersama, nanti dikumpulkan pas masuk sekolah,” klaim Aji yang hidup serumah bersama adik kecil berusia 2 tahun yang didampingi oleh Bibi dan Memangnya. Sedangkan, Bapak kandung Aji sudah lama menikah lagi dan meninggalkannya.

Baca juga :  SDN 1 Cijujung Gelar Festival Seni Dan Budaya

Terpisah, awal pekan kedua yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar di rumah, namun tidak demikian yang dilakukan Ian (13), warga RW 03 Desa Babakan Madang. Pasalnya, disaat air sungai sedang banjir, dirinya memilih meninggalkan buku dan pena demi aktifitas mengambil pasir yang dijual kepada pengepul. Dirinya seakan tak peduli keselamatan diri terhadap bahaya luapan air sungai yang dapat menerjangnya. “Banjir membawa berkah, jadi kuli naikin pasir dan batu belah dapat duit halal buat bantu orangtua,” kata Ian, pelajar kelas IX disebuah SMP yang berada di Babakan Madang.

Saat ditanya, Ian mengungkapkan, untuk mengumpulkan pasir sebanyak satu truk ukuran sedang, dirinya mendapatkan upah sebeasr Rp.100.000. “Uangnya untuk bantu orang tua memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga sehari-hari, juga untuk kebutuhan sekolah. Kadang bisa bawa pulang uang Rp.100.000 paling kecil dapat Rp.30.000 sehari,” ungkapnya Ian, yang Bapaknya bekerja sebagai kuli muat pasir.

Baca juga :  Lomba LKS SMK

Dilokasi terpisah, terpantau tidak sedikit peserta didik tingkat Sekolah Dasar di perkampungan tak jauh dari Gunung Pancar yang terlihat sedang asyik bermain game menggunakan gadget. Diantaranya, adapula yang bermain di ujung jalan aspal tak jauh dari gedung sekolah mereka. Bahkan, pantauan hingga siang hari, masih terlihat anak seusia Sekolah Dasar yang secara bergerombol menyaksikan video YouTube melalui gadget. (dian/rsd)

Baca Artikel Aslinya