oleh

Kementan Gandeng Pesantren, Wawali: Masalah Pertanian Akan Teratasi

-Berita-145 Dilihat

Lowokwaru (malangkota.go.id) – Untuk mengatasi masalah pertanian, khususnya ketersediaan bahan pangan, semua pihak harus terlibat dan termasuk di dalamnya adalah pesantren. Dalam konteks ini pesantren pun harus bersinergi dengan pihak terkait, seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.

Penyerahan secara simbolis bantuan Kementan RI oleh Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko disaksikan Wamentan RI Harvick Hasnul Qolbi

Hal tersebut yang disampaikan dan ditekankan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi saat memberikan kuliah umum bertema ‘Pemberdayaan Santri dalam Pengolahan Sampah Untuk Meningkatkan Pendapatan Pertanian Pesantren’ di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (11/1/2023). Dengan keterlibatan pesantren ini Wamentan berharap peluang dan potensi di bidang pertanian ini tidak diambil alih luar negeri atau pihak lain.

“Kami menggandeng kalangan pesantren ini karena pesantren banyak bermukim di pedesaan, dimana lahan pertanian juga sebagian besar ada di desa. Selain itu, nantinya dari pesantren akan melahirkan alumni yang siap saat terjun kemasyarakat,” imbuhnya.

Lebih jauh Wamentan Harvick berharap dari program ini sejumlah persoalan pangan, seperti beras, gula  dan jagung kedepan dapat teratas serta dapat menekan jumlah impor pangan. Sehingga secara otomatis akan turut menyejahterakan para petani. Pihak Kementan pun akan memfasilitasi masyarakat di bidang peternakan dan perkebunan.

Hal senada disampaikan Wakil Wali Kota Malang Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko yang turut hadir dalam kuliah umum ini. Menurutnya, ke depan permasalahan pangan akan teratasi secara signifikan. “Jadi para santri tidak hanya paham ilmu agama setelah keluar dari pesantren,” jelasnya.

Di Kota Malang, terang pria berkacamata itu, meski tidak mempunyai lahan pertanian yang luas namun akan turut terimbas jika sektor pertanian mengalami permasalahan. Wawali menyontohkan seperti sentra tempe yang ada di Kampung Sanan. Bahan dasar pelaku usaha adalah kedelai dan jika ketersediaan kedelai ada kendala maka pelaku usaha akan terdampak.

“Di daerah Blimbing juga ada sentra jajanan marning yang bahan bakunya dari jagung. Jika harga jagung mahal maka sentra industri ini juga akan terganggu. Jadi kami berharap dengan keterlibatan pesantren ini akan memberi solusi untuk mengatasi masalah pertanian, dan tentu kami sangat mendukung program ini,” beber pria yang kerab disapa Bung Edi itu.

Pada momen ini Kementerian Pertanian menyerahkan sejumlah bantuan kepada 12 pengelola pesantren berupa benih atau bibit dan alat-alat pertanian. Bantuan ini ke depan akan ditambah dan pihak pimpinan pesantren dipersilakan untuk mengajukan bantuan sesuai dengan kebutuhan. (say/yon)