oleh

Kajian Riset Peregangan Pulau Jawa Sumatera

-Berita-386 Dilihat

Kajian Riset Peregangan Pulau Jawa Sumatera 233

BERITA BOGOR – Dampak tektonik dan vulkanik dari peregangan Pulau Sumatera dan Jawa. Hasil riset menyebutkan peregangan tersebut membuat kedua pulau itu bergerak menjauh, peregangan tersebut berimplikasi pada kegempaan

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengungkapkan dampak tektonik dan vulkanik dari peregangan Pulau Sumatera dan Jawa. Selain membuat kedua pulau itu bergerak menjauh, peregangan tersebut berimplikasi pada kegempaan di Selat Sunda dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Menurut Irwan, kajian risetnya soal peregangan Sumatera dan Jawa membuktikan tiga hal. Pertama soal Sesar Sumatera yang menerus ke Selat Sunda seperti penelitian sebelumnya. Kedua, berhubungan dengan proses tektonik dan vulkanisme. “Yang ketiga potensi gempa di seismic gap,” katanya, dilansir Tempo, Sabtu 22 Januari 2022.

Sebelumnya memang ada dua publikasi riset tentang peregangan Sumatera–Jawa itu. Apa yang dikerjakan Irwan Meilano dan timnya adalah membuktikan dengan pengamatan lewat alat global positioning system (GPS) yang dipasang sejak 2012 di daratan Banten dan Lampung sekitar Selat Sunda.

Riset itu juga dibantu jaringan pengamatan menerus dari 55 titik stasiun GPS kelolaan Badan Informasi Geospasial di Pulau Jawa. Dari kurun sebelum 2006 hingga 2019, terlihat pola pergerakan Pulau Jawa.

“Bergerak dominan ke arah timur dengan kecepatan kira-kira 2 sentimeter per tahun,” ujar Irwan. Data pengamatan itu membuktikan pola regangan Sumatera dan Jawa yang bergerak saling menjauh. Penyebab regangan itu adalah pergerakan lempeng Indo-Australia yang menyelusup ke lempeng Eurasia. Peregangan itu setelah 2012 lebih signifikan daripada sebelumnya.

Regangan tektonik yang tinggi, menurut Irwan, berdampak ke aktivitas gunung api di Selat Sunda. “Mempercepat intrusi magmatik yang meningkatkan potensi letusan gunung,” katanya.

Dugaan itu dilengkapi citra satelit Sentinel-1A antara Januari 2018 hingga Januari 2020. Dari olahan data itu diketahui Gunung Anak Krakatau mengalami inflasi sejak lama dan berlangsung sampai sekarang.

Biasanya gunung api yang telah meletus, kata Irwan menambahkan, mengalami deflasi. Sedangkan inflasi terjadi sebelum meletus. “Di Gunung Anak Krakatau setelah meletus bagian yang sekitar meletus masih inflasi, jadi gunungnya masih tumbuh,” katanya.

Peregangan Sumatera dan Jawa juga berdampak pada potensi gempa besar dari konvergensi atau pergerakan lempeng-lempeng bumi yang saling mendekat di wilayah Selat Sunda. “Konvergensi itu terjadi pada bagian yang paling dangkal, sangat dekat dengan trench (palung samudera),” ujar Irwan.

Potensi gempa lainnya yaitu Sesar Sumatera dengan mekanisme sesar geser yang masuk ke Selat Sunda. (red) 

Artikel Terkait :

Baca Artikel Aslinya