oleh

Inovasi Biskuit Dari Biji Nangka dan Kacang Tunggak Untuk Tekan Stunting

-Berita-163 Dilihat

Blimbing (malangkota.go.id) – Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Indonesia terus menurun di angka 21,6 persen di tahun 2022. Penurunan angka stunting di Indonesia adalah kabar baik, tapi belum berarti sudah bisa membuat tenang. Karena bila merujuk pada standar WHO terkait prevalensi stunting harus di angka kurang dari 20 persen.

Mahasiswa UMM pencetus inovasi produk biskuit dari tepung biji nangka dan kacang tunggak

Melihat hal tersebut, kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) membuat inovasi produk makanan bayi. Makanan berupa biskuit dari tepung biji nangka dan kacang tunggak. Fakhri Ahmad Wafi, salah satu anggota tim mengatakan masalah utama dari stunting ini adalah kekurangan asupan gizi, termasuk kekurangan protein dan kalori.

“Dari banyaknya penelitian yang ada, biji nangka sendiri memang memiliki kandungan karbohidrat. Kacang tunggak juga memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 24,4 gram. Kedua bahan itu disubstitusi menjadi tepung yang kemudian kami olah menjadi biskuit,” ungkap Fakhri, Selasa (11/7/2023).

Fakhri menambahkan, pemilihan biji nangka ini bukan tanpa sebab. Ia bersama timnya melihat masih banyak limbah biji nangka yang terbuang sia-sia. Fakhri juga menyampaikan target stunting dari timnya merupakan bayi di Indonesia yang berumur 0-6 bulan dan 6-12 bulan yang mengonsumsi MPASI (Makanan Pendamping ASI).

“Karena memang fokus kami ke bayi, jadi produk yang kami buat berupa biskuit sebagai makanan pendamping ASI. Biskuit ini juga bisa diolah menjadi bubur. Selain itu, biskuit sendiri bisa menjadi makanan sekaligus sebagai mainan untuk merangsang motorik pada bayi atau anak-anak. Alhamdulillah PKM-RE yang sedang kami buat telah mendapat pendanaan dari Kemendikbudristek,” ungkap Fakhri.

Lebih lanjut, mahasiswa asal Surabaya itu menjelaskan, tepung biji nangka dan kacang tunggak yang sudah diolah menjadi biscuit ini kemudian akan diuji kadar proksimat untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Selain itu juga dilakukan pengujian organoleptik dan terakhir diujikan pada bayi dan ibu yang sedang hamil.

“Semoga produk yang kami buat dari PKM-RE ini bisa membantu menurunkan prevalensi stunting di Indonesia, sehingga dapat menciptakan dan melahirkan generasi bangsa yang sehat dari bayi dan ibu yang sehat,” harap Fakhri.

Pengembangan produk ini tak luput dari kerja sama anggota tim lainnya diantaranya adalah Herlina Diah Ayu Rosita, Zurotun Nasifah, Audina Aura Sarie dan Wahyu Amalia. Selain itu, kelompok mahasiswa teknologi pangan juga mendapatkan dukungan dan bimbingan langsung dari dosen Ilmu Teknologi Pangang (ITP) UMM, Prof. Dr. Ir. Hj. Noor Harini, MS. (say/yon)