oleh

DKP Berikan Solusi Untuk Petani Lahan Garapan

-Berita-216 Dilihat
DKP Berikan Solusi Untuk Petani Lahan Garapan 239

Kawasan Ketahanan Pangan dan Gizi

BERITA BOGOR – Tanpa ketersediaan lahan tentu saja petani garapan bakal stagnan dalam bercocok tanam. Pemerintah Kabupaten Bogor Dinas Ketahanan Pangan (DKP) pun tidak serta merta tutup mata, sebab sejumlah program ketahanan pangan bisa dijadikan solusi.

Kondisi petani garapan yang tidak memiliki lahan atau kemudian kehilangan lahan garapannya akan mengalami stagnan di sektor pertanian maupun perkebunan, namun ada solusi yang dapat bermanfaat bagi petani tersebut.

“Selama kita masih mau berusaha maka hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin, sebab untuk bercocok tanam bisa dilakukan meskipun lahannya tidak seluas lahan garapan milik swasta. Seperti, dengan cara memanfaatkan pekarangan rumah atau tanah kosong disekitar kita,” kata Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan pada DInas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Ir. A Yeni Haryati, Kamis (1/9/2022) siang.

Sesuai bidang tugasnya, Ir. A Yeni Haryati memberikan beberapa solusi yang antara lain memanfaatkan lahan di pekarangan dengan Budi daya tanaman pangan untuk kebutuhan konsumsi keluarga, dan bisa dijual jika hasil yang dipanen mencukupi dengan cara menggunakan polybag atau metode tanam hidroponik.

Baca juga :  PT KAI Gembok 12 Ruko di Bogor

“Lahan pekarangan bisa untuk Budi daya tanaman pangan menggunakan al polybag, atau dengan metode hidroponik. Akan lebih baik lagi apabila petani itu bergabung dengan kelompok tani supaya mendapat bimbingan dari penyuluh pertanian yang ada di wilayah binaan.

Tak hanya itu, kata Ir. A Yeni Haryati menjelaskan, petani bisa mendapatkan edukasi pemanfaatan lahan pekarangan, juga bisa mengajukan permohonan kepada DKP Kabupaten Bogor untuk edukasi tersebut. “Dipekarangan kantor DKP juga ada kebun yang nisa digunakan sebagai lahan edukasi, seperti sayur mayur,, buah, umbi, kacang dan komoditi lainnya,” jelasnya.

Sebelumnya, ratusan petani di Desa Bojong Koneng Kecamatan Babakan Madang mengeluh telah kehilangan lahan garapan yang ingin mendapat sentuhan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Sebagian besar petani tersebut pun menganggur tanpa pekerjaan dan ada pula yang terpaksa kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari- hari.

Apud (61) warga Kampung Baru Dusun 3 RT 05/05 mengaku sejak berumah tangga dirinya telah terjun sebagai petani mengikuti jejak orangtuanya menggarap lahan milik swasta untuk bercocok tanam. Namun, ketika pemilik lahan menggunakan lahan tersebut maka dirinya praktis tidak bisa lagi bercocok tanam. Hal serupa di alami Badnu (60) warga Kampung Cogarungsang Dusun 3 RT 05/05 yang terpaksa bekerja secara serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga setiap harinya.

Baca juga :  Pemprov Jabar Bantu Kabupaten Kota Penuhi Indikator Kinerja Kunci

Sementara, Atin (48) Ketua RT 05/05 Dusun 3 Desa Bojong Koneng mengatakan berdasarkan pendataan jumlah petani yang kehilangan lahan pertanian dan perkebunan garapan sebanyak 120 orang yang sudah mendapat kerohiman dari pemilik lahan. Namun, hingga berita ini dimuat mereka belum memiliki pekerjaan tetap bahkan diantaranya menjadi pengangguran.

“Dahulu di kampung ini terkenal dengan hasil pertanian, perkebunan dan pengrajin coet batu, tapi sekarang para petaninya kerja serabutan, ada yang kuli suruhan, ada juga di pengrajin coet batu malah banyak juga yang nganggur,” ungkap Atin kepada Rakyat Bogor, Kamis (25/8/2022) kemarin.

Sekretaris Desa Bojong Koneng Suganda mengungkapkan sektor pertanian wilayahnya cukup berpotensi, bahkan pada tahun 2019 desanya meraih Juara ke-1 Ketahanan Pangan yang saat itu komoditi pisang dan beras merah terunggul kualitasnya. Desa Bojong Koneng juga secara resmi menjadi kawasan ketahanan pangan dan gizi dan penghargaan dari Bupati Ade Munawaroh Yasin pada tahun 2019.

Baca juga :  Pengesahan Revisi Perda RPJMD Kabupaten Bogor

“Situasi dan kondisi saat ini tentunya berbeda dari tahun sebelumnya dimana pandemi Covid-19 dan permasalahan lahan garapan baru-baru ini menjadikan sebagian petani kehilangan mata pencaharian. Akan tetapi kami terus berupaya mencari solusi yang diantaranya menjajaki kerjasama dengan KPH/Perhutani untuk kerjasama pengelolaan hutan sosial. Selain itu upaya solusi agar pemberdayaan petani tetap dipertahankan melalui 3 kelompok tani yang masih aktif hingga saat ini,” harapnya. (Cky)

Artikel Terkait :

Baca Artikel Aslinya