oleh

BPBD Jabar Ingatkan Kewaspadaan Bencana

-Berita-289 Dilihat

BERITA BOGOR – Pergantian musim kemarau ke musim hujan perlu tingkatkan kewaspadaan dan pengurangan resiko bencana, khususnya bagi masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana. Hal ini menjadi bagian kinerja Badan Penanggunalangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat. 

Berdasarkan data BPBD Jawa Barat, bahwa Jumlah bencana di Jawa Barat cenderung meningkat setiap tahunnya. Dalam kurun waktu 2017 hingga 2019 ini, tercatat pada tahun 2017 terdapat 1.311 kejadian bencana, tahun 2018 sebanyak 1.561 bencana telah terjadi dan tahun 2019 hingga September kemarin tercatat 1.274 bencana di Jabar. Sedangkan jumlah antara September 2019 ini dan September 2018 lalu pun terpaut cukup jauh. Jumlah akumulasi bencana 2018 hingga September terdapat 1.093 bencana.

Kepala Seksi Kesiapsigaan BPBD Jabar, Adwin Sinarimbun mengatakan, jumlah bencana yang cenderung meningkat tersebut selain adanya faktor cuaca, Jabar dikepung dengan bentang alam maupun georafis yang membuat Jabar rawan bencana.

Baca juga :  Jawa Barat Fokus Penanggulangan Bencana

“Sebut saja bencana gempa bumi yang disebabkan aktifitas tujuh gunung api di Jabar, belum lagi adanya pertemuan dua lempeng Euroasia dan Indoaustralia di Laut Selatan Jawa serta adanya tiga patahan atau sesar di Jabar yatu Sesar Lembang, Baribis dan Cimandiri,” katanya, Jum’at (18/10/2019). 

Selain itu, lanjut Adwin, ada tsunami dampak dari gempa bumi yang sering terjadi di selatan Jabar karena tsunami di pantai selatan bisa karena gempa bumi atau letusan gunnug yang ada di laut, longosr di laut dan hantaman meteor. Contohnya tsunami Pangandaran tahun 2006. 

Dari sisi geografis juga, Jabar pun cukup rentan dengan pergerakan tanah terlebih jika musim hujan datang. Sebanyak 22 kota kabupaten tetap menjadi perhatian karena memiliki potensi longsor menengah hingga tinggi. Selain itu di antaranya berpotensi longsor ditambah banjir bandang. Jumlah kejadian bencana di Jabar tiap tahunnya didominasi dengan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang maupun angin puting beliung.

Menurutnya, antisipasi bencana alam yang terbilang besar di tahun 2018 atau awal 2019 lalu sepeti banjir bandang di Cilengkrang Kabupaten Bandung maupun di daerah Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Namun yang menjadi banjir tahunan yang pasti menyedot perhatian yaitu banjir di selatan Kabupaten Bandung. “Longsor itu kaitannya dengan cuaca. Jumlah longsor banyak sekali karena daratan kita bukit banyak, gunung juga jadi mudah sekali banyak longsor, 22 kota kabupaten rawan longsor. Kalau untuk banjir itu utamanya di tengah hingga utara, seperti Bandung, Bekasi, Cirebon, Indramayu,” imbuhnya. (red)

Baca Artikel Aslinya