oleh

5-10 Persen Penanganan TBC di RSUD Ciamis dari Total Populasi

-Berita-280 Dilihat

5-10 Persen Penanganan TBC di RSUD Ciamis dari Total Populasi 1CIAMIS, kabarSBI.com – Penyakit menular tuberkulosis atau TB Paru merupakan bakteri ganas dan perlu penanganan serius di masyarakat. penyakit ini juga dikenal dengan sebutan TBC yang paling dominan disebabkan karena tidak menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Ciamis, dr Bayu Yudiawan, menurutnya TBC merupakan penyakit menular langsung yang pada umumnya menyerang Paru-paru (80%). Dapat juga menyerang organ tubuh lain seperti Tulang, Kelenjar dan Kulit.

Penanganan tuberkulosis atau penderita TB Sensitive Obat (SO) di RSUD Ciamis hanya 5-10% dari populasi atau keseluruhan masyarakat yang menderita penyakit TB di Kabupaten Ciamis.

“Kenapa di RSUD ini hanya sekitar 5-10% pasien yang dirawat dari total populasi penderita di Kabupaten Ciamis. Sisanya yaitu 90% penderita TB Sensitive Obat (SO) bisa ditangani di puskesmas masing-masing,” ucapnya kepada KabarSBI.com, Selasa (12/7/2022).

Beda dengan penderita TB yang sudah di tingkat Resisten Obat (RO), Dia mengatakan kalau masyarakat penderita TB Paru sudah RO, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Dokter Sukarjo Tasikmalaya.

“RO itu bakterinya sudah kebal, dan perlu pengobatan lama sampai 2 tahun. Nah di kita belum ada alat dan obat-obatan untuk penanganan tuberkulosis yang audah RO,” bebernya.

Dikatakan Dia, untuk alur penegakan diagnosis masyarakat, salah satunya e-KTP sudah mempuni. Kabupaten Ciamis sendiri sebetulnya sudah maju satu langkah dalam penanggulangan tuberkulosis, karena sudah memakai algoritma penegakan diagnosis dengan teknologi Tes Cepat Molekuler (TCM).

“TCM ini algoritma yang disarankan saat ini, karena dia bisa membedakan antara Mycrobacterium tuberculosis atau bukan,” ujarnya.

Yang memiliki Alat TCM ini baru ada 6 puskesmas, untuk itu, lanjut Dia, bagi puskesmas yang masih belum memiliki alat TCM bisa menggunakan metode penegakan diagnosis konvesional yaitu melalui pemeriksaan dahak, dan semua puskesmas bisa.

“Untuk pelatihan penanggulangan TB di tiap puskesmas itu sudah sering dilakukan, karena ini sudah menjadi program prioritas nasional,” jelasnya.

Selanjutnya ada program triple eliminasi, yaitu kolaborasi pemeriksaan penyakit menular HIV AIDS, nanti penderita HIV akan diperiksa TB, begitu pula dengan penderita TB akan diperiksa HIV.

“Karena biasnya penderita HIV/AIDS itu penyakit penyertanya adalah TBC, maka diperlukan kolaborasi pemeriksaan,” tukasnya.(kyn/bono/red)

Baca Artikel Aslinya